Hampir semua proyek yang meleset dari jadwal punya satu kesamaan: asumsi yang tidak pernah ditulis. Brief bukan dokumen formal, melainkan cara menyamakan asumsi sebelum ada yang mulai bekerja.
1. Tujuan bisnis, bukan daftar fitur
"Butuh website lima halaman" menjawab apa, tapi tidak menjawab kenapa. Tuliskan apa yang ingin berubah setelah proyek selesai: lebih banyak permintaan penawaran, proses internal yang lebih cepat, atau citra yang lebih meyakinkan saat bertemu klien baru.
2. Siapa penggunanya
Satu atau dua kalimat tentang siapa yang akan memakai hasilnya dan apa yang mereka cari. Informasi ini memengaruhi struktur halaman dan bahasa yang dipakai lebih dari yang biasanya disangka.
3. Contoh yang disukai (dan yang tidak)
Tautan ke dua atau tiga situs, aplikasi, atau desain yang terasa pas, ditambah satu yang tidak. Sertakan alasannya singkat saja. Ini jauh lebih jelas daripada kata sifat seperti "modern" atau "elegan".
4. Batasan yang sudah pasti
- Tanggal yang tidak bisa bergeser, misalnya peluncuran produk atau pameran.
- Kisaran anggaran, walaupun kasar.
- Sistem yang sudah ada dan harus tetap dipakai.
5. Siapa yang memutuskan
Sebutkan siapa yang memberi persetujuan akhir. Revisi paling mahal biasanya datang dari orang yang baru melihat hasilnya di tahap akhir.
Brief yang jujur soal hal yang belum diketahui lebih berguna daripada brief yang terlihat lengkap.
Kalau belum yakin di beberapa bagian, tidak masalah. Tulis saja "belum tahu"; pertanyaan itu akan kita jawab bersama di sesi discovery.